Ikat Pinggang Penahan Lapar Pasangan Lansia Ini Menjadi Saksi Kemiskinan Hidupnya

Posted by Ganas003 on 08.45 in

Ikat Pinggang Penahan Lapar Pasangan Lansia Ini Menjadi Saksi Kemiskinan Hidupnya


Saat melihat Kondisi Nuru, perempuan lansia asal Konawe Utara menciptakan hati miris. Bagaimana tidak, perempuan berumur sekitar 60 tahunan lebih itu, dilarikan di RSUD Provinsi Sulawesi Tenggara, beberapa waktu yang lalu.

Nuru berasal dari Desa Poni-poniki, Kecamatan Motui Kabupaten Konawe Utara. Rabu, 27 Maret 2019, pagi, sebelum beliau terbaring di rumah sakit, Nuru sempat alami petaka yang menciptakan lengan dan sebagian dari wajahnya harus dibalut dengan perban dan mendapat perawatan intensif.


Saat pagi itu kira – kira pukul 08.00 Wita, Nuru tiba-tiba pingsan ketika mau menanak nasi dengan memakai kayu bakar. Tidak tahu apa penyebabnya, penyakit epilepsi yang menciptakan tangan kanannya sulit digerakkan tiba – tiba kambuh sebelum nasi sempat masak.



Saat itu, beliau tak bisa mengendalikan sakit yang tiba tiba-tiba, tubuhnya pribadi terbanting di atas bara api. Nuru pingsan. Tak ada orang lain di rumahnya yang bisa menolong. Suaminya yang juga sudah berumur lanjut, sedang berkunjung ke salah seorang tetangganya.


Saat siuman, Nuru masih tetap tetap terbaring di atas bara api. Teriakannya yang kesakitan, menciptakan salah seorang tetangganya bergegas ke pondoknya dan membantu memindahkan perempuan bau tanah itu dari atas bara api.


“Saya tiba-tiba jatuh, tak tahu kenapa, begitu berdiri saya sudah penuh luka-luka, saya berteriak panggil orang,” ujar Nuru terbata-bata dijumpai di rumah sakit.


Di rumah sakit, hanya ada beberapa tetangga yang menemani mereka. Nuru nyaris tak punya kerabat akrab di sana. Suaminya, tak bisa ikut menemani ke Kota Kendari sebab sudah uzur untuk menempuh perjalanan jauh.


Untungnya, meskipun dari kalangan tidak mampu, Nuru cukup mendapat perhatian. Petugas Dinas Kesehatan Konawe Utara yang dihubungi Liputan6.com mengatakan, sejumlah manajemen Nuru sudah diurus sehingga beliau bisa dirujuk ke rumah sakit.


“BPJS dan kartu keluarga sudah ada kami bantu uruskan. Mereka tak punya BPJS, dan surat keterangan tak mampu, juga sudah diurus. Kami berharap, pihak RSUD bisa meringankan beban keduanya,” ujar Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe Utara, Sitti Riani Thayeb.


ikat Pinggang Penahan Lapar


Pasangan lansia asal Desa Poni-poniki Konawe Utara itu sering kehabisan makanan. Suaminya yang sudah berumur, hanya bekerja sebagai pemungut kelapa. Sedangkan, Nuru hanya ibu rumah tangga.


Upah Tahir memanjat kelapa didapat dari bagi hasil. Jika Tahir berhasil menjatuhkan 10 buah kelapa, laki-laki lansia itu akan mendapat penggalan lima buah kelapa.



Hasilnya, akan dikupas dan dijemur untuk dijadikan kopra. Namun, badan Tahir yang mulai bongkok, tak bisa lagi menahan banyak pohon kelapa, menyerupai dikala mereka gres menikah 10 tahun lalu.


Diakui Nuru, kadang mereka harus mengikat perut dengan tali atau kain bila tak ada kuliner yang bisa mengganjal perut. Cara itu, dianggap paling ampuh untuk mengatasi rasa lapar dikala tak ada makanan.


“Tetangga tak setiap hari bawa makanan. Suami juga tidak setiap hari sanggup uang,” ujar Nuru.


Beberapa tetangga mereka yang dijumpai di rumah sakit membenarkan. Pasangan ini, memang hidup hanya berdua dan tak mempunyai keluarga.


“Tahir kini hanya bertugas memungut kelapa agar sanggup uang untuk beli kuliner mereka berdua. Kalau terpaksa, kadang masih panjat juga,” ujar Lislani (32) salah seorang tetangga mereka di rumah sakit.


Kasmin (59), salah seorang tetangganya lainnya mengatakan, keduanya menikah sekitar 10 tahun lalu. Nuru yakni perempuan orisinil Desa Motui. Sedangkan Tahir, seorang perantau asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).


“Mereka saling kenal sebab Tahir sering ke kampung membeli atap untuk dibawa ke Binongko, Wakatobi. Di situ mereka kemudian menikah hingga hari ini,” ujar Kasmin.


Kasmin melanjutkan, keduanya sebelumnya tinggal depan jalan poros provinsi di Desa Matandahi, desa yang berdekatan dengan Poni-poniki. Namun, pemukiman keduanya dipindahkan warga ke dalam lorong di wilayah Poni-poniki.


Kedua pasangan Lansia ini tinggal di gubuk yang dibangunkan warga untuk mereka. Terletak di dalam lorong yang tak begitu jauh dari jalan raya, hanya ada beberapa rumah warga di sekitarnya.


“Kalau lihat pribadi rumahnya, menyerupai kandang. Kasian sebenarnya, kami juga sudah berusaha bantu-bantu,” ujar Kasmin, tetangganya.


Di gubuk yang terbuat dari kayu dan beratap rumbia itu, Nuru dan Tahir mengandalkan sambungan listrik dari tetangga. Namun, kadang hanya memakai penerangan lampu minyak.


“Mereka sudah usang di situ. Namun, pertolongan warga miskin tampaknya tak pernah mereka terima. Sebab, identitas mereka kata beberapa pihak tak jelas,” ujar Asman, salah seorang tetangganya.


Padahal berdasarkan Asman, keduanya juga berpartisipasi dalam acara desa bila dibutuhkan. Saat pemilihan kepala desa, pasangan lansia ini kata warga, ikut mendukung kepala desa yang dikala ini memimpin.


sumber : liputan6.com