Tak Hanya Sebuah Mitos, Nyatanya Kehamilan Itu Memang Menular

Posted by Ganas003 on 08.45 in

Tak Hanya Sebuah Mitos, Nyatanya Kehamilan Itu Memang Menular


Banyak perempuan yang sudah menikah kemudian mengeluhkan nasibnya yang belum juga diberi momongan. Padahal sudah bertahun-tahun menjalin rumah tangga. Soal mendapat momongan memang jadi dambaan setiap pasangan yang sudah menikah ya Bun. Tapi percayakah Bunda jikalau ternyata kehamilan itu sanggup menular? Bahkan di luar sana ada lho perempuan yang meminta jempol kakinya diinjak oleh sahabatnya yang sedang hamil karena meyakini kehamilan itu sanggup ditularkan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim dari Bocconi University, Italia berusaha melihat imbas pertemanan pada sikap kesuburan seseorang dan transisi ketika menjadi orangtua. Penelitian ini melibatkan 1,720 perempuan.


Mereka melaksanakan survei semenjak para partisipanmasih di dingklik sekolah menengah pada tahun 1990-2009. Ketika para perempuan tersebut sudah menginjak usia 26-33 tahun, mereka diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan mereka, termasuk soal pertemanan.

Dari 820 perempuan yang menjadi orangtua, rata-rata mereka melahirkan anak pertama di atas 27 tahun dan lebih dari separuhnya menyatakan bahwa kehamilan mereka tak direncanakan. Para jago menyimpulkan bahwa mereka yang merencanakan kehamilannya dipicu oleh teman-teman ternyata sudah mempunyai anak.


Jadi, bila Bunda mempunyai sahabat Sekolah Menengan Atas yang sudah mempunyai anak, maka akan lebih mungkin “tertular”, dalam arti, lebih termotivasi untuk hamil. Seorang peneliti yang terlibat dalam penelitian tersebut mengatakan, penularan kehamilan yang dimaksud bukan terjadi melalui kontak fisik, namun melalui kontak emosional

Efek Kontak Emosional Yang Bekerja

Makara Bun, ketika seorang perempuan melihat sahabat sebayanya hamil dan melahirkan, maka pikiran positifnya juga akan mempengaruhi keinginannya untuk mempunyai keturunan juga. Mungkin Bunda masih bertanya-tanya, kenapa peranan sahabat begitu penting dalam memengaruhi keputusan untuk mempunyai keturunan?


Begini Bun, pengalaman melahirkan seorang sahabat merupakan sumber pembelajaran yang penting karena akan menunjukkan informasi yang relevan dan mempunyai kegunaan mengenai bagaimana menhadapi transisi menjadi orangtua. Di lain sisi, kita cenderung menyamakan diri atau bahkan membandingkan dengan sahabat sebaya dengan berpikir: “Wah, di umurnya yang sekarang, beliau sudah punya momongan, sementara saya belum.” Bila hal ini dijadikan motivasi yang positif, lambat laun keinginan untuk mempunyai anak akan terasa begitu kuat.


Disadari atau tidak, planning mempunyai anak memang seharusnya menjadi keputusan yang sangat pribadi, nyatanya sanggup dipengaruhi oleh lingkungan pertemanan, terutama sahabat Sekolah Menengan Atas yang masih sebaya dan akrab. Inilah sebabnya, cukup lazim bagi sekelompok perempuan yang bersahabat untuk hamil dalam waktu yang berdekatan, karena masing-masing saling menginspirasi dan memotivasi. Namun perlu dipahami bahwa hasil penelitian ini bukan menjadi patokan bagi perempuan untuk sanggup hamil dan mempunyai anak, beberapa faktor lain baik yang sanggup dijelaskan maupun yang sifatnya misteri, juga perlu dijadikan penilaian ya Bun.


Yang Lebih Penting, Jangan Sampai Perempuan Ingin Hamil Hanya Karena Melihat Temannya Hamil


Bun, jangan memutuskan mempunyai anak hanya karena melihat sahabat yang sudah menjadi orangtua ya. Ingat, menjadi orang renta itu merupakan tanggung jawab yang berat dan tidak sanggup dilakukan hanya demi memenuhi tuntutan sosial. Jika Bunda ingin mempunyai momongan, pastikan Bunda dan pasangan sudah siap. Salah satunya dalam hal kesiapan emosional.


Berikut tanda Bunda sudah siap secara emosional :


Sudah siap waktu Bunda terbagi. Ketika mempunyai momongan, sanggup dibilang waktu Bunda ialah milik si kecil.
Senang dengan anak kecil. Saat ada anak kecil Anda eksklusif bangga dan ingin mengajaknya bermain.
Tidak begitu berambisi dalam urusan karier. Apalagi Bunda sudah tidak sanggup lagi seenaknya lembur dan pulang sampai larut malam karena ada makhluk kecil yang membutuhkan Bunda di rumah.
Rumah tangga Bunda berjalan harmonis. Tidak perlu ijab kabul yang tepat untuk mempunyai anak. Namun, serasi berarti rumah tangga Bunda dalam kondisi yang baik. Misalnya, tidak ada duduk perkara serius dalam rumah tangga ibarat perselingkuhan, kekerasan rumah tangga, duduk perkara komunikasi dengan pasangan, dan duduk perkara ijab kabul lainnya.



Demikianlah pokok bahasan Artikel ini yang sanggup kami paparkan, Besar cita-cita kami Artikel ini sanggup bermanfaat untuk kalangan banyak. Karena keterbatasan pengetahuan dan referensi, Penulis menyadari Artikel ini masih jauh dari sempurna, Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diperlukan biar Artikel ini sanggup disusun menjadi lebih baik lagi dimasa yang akan datang.


Sumber Artikel :sayangianak.com