Muncul Ajuan Tes Keperawanan Bagi Perempuan Yang Akan Menikah, Katanya Buat Kurangi Perceraian

Posted by Ganas003 on 08.45 in

Muncul Usulan Tes Keperawanan Bagi Wanita yang Akan Menikah, Katanya Buat Kurangi Perceraian


Apa yang ada di benakmu dikala tahu bahwa ada anjuran gres soal syarat menikah, yakni melaksanakan tes keperawanan bagi wanita?



Kalau merasa anjuran tersebut terlalu berlebihan alasannya yaitu menyangkut privasi seseorang, kau yaitu satu dari sekian juta perempuan yang berpikiran hal yang sama.


Selama ini, belum ada satu pun negara yang memberlakukan aturan tersebut alasannya yaitu memang sifatnya yang sangat personal.



Tapi seorang hakim Indonesia berjulukan Binsar Gultom mengusulkan pengadaan tes keperawanan untuk mengurangi angka perceraian.


Sebagaimana dilaporkan Antara News, anjuran yang tertuang dalam bukunya yang berjudul ‘Pandangan Kritis Seorang Hakim’, terperinci eksklusif menuai kontroversi.



Baca Juga
Pegang K3maluan Istri Tetangga yang Sedang Jemur Baju, Tangan Ahmad Putu5
Bertahan Hidup dengan Berjualan Roti, Nenek 71 Tahun yang Alami Kebutaan ini sering Dibayar Menggunakan Uang Palsu
Wanita Muda Tewas dalam Kamar Kos di Pancoran, pada Kem4lu4nnya Tersembul Kepala Bayi
Usulan ini menjadikan pro kontra dari aneka macam pihak. Nah sebelum kau berpendapat macam-macam, yuk simak dulu ulasan berikut ini!


Kasus perceraian yang tinggi di Indonesia jadi alasan besar lengan berkuasa hakim Binsar Gultom mengusulkan tes keperawanan bagi perempuan sebelum menikah


Hakim yang dikenal dari keterlibatannya menangani perkara kopi sianida Jessica Wongso ini memaparkan alasan perlunya tes keperawanan dilakukan, yakni untuk menekan angka perceraian di Indonesia.


Dilansir dari Detik, Binsar memaparkan data dari Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung, dari 2 juta kesepakatan nikah di Indonesia, 300 ribu di antaranya bercerai dengan aneka macam alasan, salah satunya alasannya yaitu keterpaksaan.


Perkawinan yang dilandasi keterpaksaan ini banyak terjadi alasannya yaitu hamil di luar nikah.


Adanya tes tersebut, berdasarkan Binsar secara otomatis akan meminimalisir kesepakatan nikah tanggapan keterpaksaan sehingga tingkat perceraian pun ikut berkurang.



Tidak hanya wanita, para lelaki juga diusulkan menjalani tes keperjakaan sebelum tetapkan menikah. Memangnya bisa?


Agar tidak terjadi diskriminasi, ibarat dikutip Detik, Binsar juga mengusulkan adanya tes keperjakaan bagi para calon pengantin pria.

Ia meminta para andal kedokteran melaksanakan penelitian terkait mekanisme untuk mengetahui apakah seorang lelaki masih atau sudah tidak perjaka.


Menurutnya dengan teknologi kedokteran yang sudah modern ibarat sekarang, niscaya cara itu sanggup ditemukan.


Dirinya juga yakin bahwa hal itu sanggup mencegah bibit-bibit perceraian timbul di kemudian hari apalagi jikalau ternyata si istri gres tahu jikalau keperjakaan suaminya terenggut di dunia malam atau rumah pelacuran.


Namun anjuran tes yang dimaksud bukan sebuah ketentuan pakem dari negara yang mana setiap calon pengantin harus melalui mekanisme resmi, tapi lebih ke arah keputusan internal keluarga


Usulan ini tidak secara eksklusif diajukan kepada pemerintah selaku pembuat kebijakan. Binsar sendiri menyadari jikalau tes keperawanan atau keperjakaan ini sifatnya sangat privat sehingga sangat mustahil jikalau penerapannya diatur eksklusif oleh negara.


Usulan ini lebih diarahkan kepada keluarga yang bersangkutan, apakah menghendaki adanya tes tersebut pada anggota keluarga mereka yang mau menikah.


Orang renta diminta untuk memastikan apakah anak-anaknya menikah benar-benar atas dasar cinta dan ketulusan, bukan untuk menutupi aib.


Kalau memang masih ragu, para orangtua sanggup melibatkan tim medis. Saat inilah orang renta sanggup mengukur tingkat keseriusan anaknya.


Bila ada indikasi keterpaksaan, lebih baik jangan diteruskan alasannya yaitu rawan bercerai.


Selain tes keperawanan atau keperjakaan, ada beberapa hal yang berdasarkan Binsar sanggup dilakukan untuk menekan angka perceraian di Indonesia


Tes keperawanan atau keperjakaan bukan satu-satunya cara yang sanggup dilakukan untuk menekan angka perceraian di Indonesia.


Binsar juga menyebut beberapa faktor lain ibarat menaikkan syarat usia calon pengantin. Laki-laki dari 19 tahun jadi 25 tahun dan perempuan dari 16 tahun jadi 21 tahun.


Menurutnya, kesepakatan nikah yang dilakukan terlalu dini akan gampang memicu perceraian alasannya yaitu kedua mempelai belum cukup umur mengambil keputusan.


Kedua, alasannya yaitu kondisi ekonomi juga sering menjadi alasan bercerai, mempunyai pekerjaan jadi hal yang sanggup diwajibkan bagi salah satu atau kedua calon pengantin.


Selain itu, syarat poligami juga harus diperketat, yang sebelumnya hanya perlu izin dari istri pertama, tapi selanjutnya suami yang akan poligami harus benar-benar memastikan sanggup berlaku adil bagi istri-istri dan anak-anaknya. Bagi yang tidak sanggup adil akan diberi hukuman hukum.


Usulan Binsar ini memang menjadikan pro kontra alasannya yaitu dinilai akan melanggar privasi seseorang. Kalau berdasarkan kalian gimana, baiklah atau nggak?


Sumber: islamidia.com